Apa Itu Borneo Herbs

Kesehatan Holistik

Kata “ Holistik “ mengandung gagasan bahwa semua aspek diri manusia adalah saling terkait. Artinya filosofi dasar dari pengobatan Holistik melibatkan pendekatan untuk menyeimbangkan pikiran, tubuh, dan ruh ( jiwa ).

Terapi /Pengobatan Holistik adalah bentuk penyembuhan yang melibatkan tubuh, pikiran, jiwa dan emosi secara keseluruhan.

Definisi kesehatan menurut WHO adalah Sehat Jasmani, rohani dan Sosial. Ini menjadi idaman semua orang tapi untuk mendapatkan ketiganya secara bersamaan tentu bukan hal yang mudah.

Disinilah perlunya pendekatan bersifat Holistik. Raga dipulihkan, jiwa diputihkan dan hubungan social / lingkungan perlu ditumbuh suburkan.

Bagaimana caranya ?

Tentu tak hanya menelan obat atau menusukkan jarum suntik berisi obat. Masih butuh “ obat – obat “ lain.

Dasar pendekatan holistik adalah manusia tidak hanya punya raga tapi punya jiwa dan mempunyai hubungan sosial alam semesta.

Peran raga missal berkaitan dengan organ – organ nyata seperti jantung, pembuluh darah, otak, saraf, hati, alat pencernaan, panca indera serta kelenjar.

Komponen Jiwa terdiri atas roh, akal, nafsu, hati nurani. Sebagai makhluk sosial manusia selalu berinteraksi dengan lingkungannya.

Note : Tidak semua alternatif itu adalah Holistik. Jika suatu pengobatan alternatif tidak memandang permasalahan kesehatan secara menyeluruh , pengobatan tersebut berarti bukan pengobatan Holistik.

 

Radikal bebas, bagaimana proses terjadinya?

Beberapa tahun belakangan ini istilah radikal bebas begitu populer. 

Molekul kimia yang sangat  reaktif ini disebut sebut sebagai penyebab penuaan dini dan penyakit penyakit seperti : penyempitan pembuluh darah ( aterosklerosis ), PJK, penyakit gangguan otak, paru , hati, ginjal, syaraf,katarak, reumatik, diabetes, peradangan, pengapuran tulang dan kanker sering dikaitkan dengan radikal bebas.

Radikal bebas diibaratkan sampah dalam tubuh dan supaya sampah dalam tubuh tidak menumpuk diperlukan antioksidan sebagai pemungutnya.

Radikal bebas adalah suatu molekul yang relatif tidak stabil dengan atom yang pada orbit terluarnya memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan.

Molekul yang tidak berpasangan tersebut menjadi tidak stabil dan radikal, supaya stabil molekul tersebut selalu berusaha mencari pasangan elektronnya dengan cara merebut elektron molekul lain secara membabi buta. Karena itulah disebut radikal bebas atau reactive oxygen species ( ROS )
.

Sumber radikal bebas ada yang bersifat internal ( dalam tubuh ) dan ada yang bersifat ekternal ( luar tubuh ). Radikal bebas internal berasal dari oksigen yang kita hirup.

Oksigen yang biasa kita hirup merupakan penopang utama kehidupan karena menghasilkan banyak energi namun ada hasil samping dari reaksi pembentukan energi berupa reaktif oksigen species ( ROS ).

Radikal bebas ekternal berasal dari Polusi udara, alkohol, rokok, radiasi sinar ultra violet, obat-obatan seperti anestesi, pestisida, sinar X, dan kemoterapi, menggoreng, memanggang, membakar makanan dengan suhu terlalu tinggi, minyak goreng yang telah dipakai berkali kali sampai berwarna hitam, zat pengawet formalin, zat pewarna makanan / minuman sintetis ( zat warna untuk tektil, rhodamin ).

Apa itu Anti Oksidan ?

Supaya radikal bebas tidak merajalela, tubuh secara spontan akan memproduksi zat anti oksidan.

Anti oksidan sebagai inhibitor yang bekerja menghambat oksidasi dengan cara bereaksi dengan radikal bebas reaktif membentuk radikal bebas tidak reaktif yang relative stabil sehingga dapat melindungi sel dari efek berbahaya radikal bebas oksigen reaktif.

Antioksidan ada dua macam yaitu antioksidan endogen ( diproduksi oleh tubuh sendiri ) berupa enzim : superoksida dismutase ( SOD ), glutation peroksidase ( GSH Px ), katalase. Dan non enzim : senyawa protein kecil glutation.Sedangkanantioksidan eksogen( didapatkan dari luar tubuh ) misal dari sayur sayuran, buah buahan, rempah.

Ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan menyebabkan keadaan stress oksidatif yang mengakibatkan kerusakan sel, jaringan hingga organ tubuh.

Langkah tepat untuk mengurangi stress oksidatif adalah dengan mengurangi paparan radikal bebas dan mengoptimalkan pertahanan tubuh melalui aktivitas antioksidan.

Selain konsumsi antioksidan ada beberapa kebiasaan yang disarankan untuk mengurangi radikal bebas : jangan merokok atau mengijinkan orang lain merokok didepan anda,

Hindari kena sinar matahari dan sinar x secara langsung dan berlebih, hindari konsumsi daging yang dibakar, diasap dan digoreng dengan minyak yg beruang ulang, hindari makanan yang diawetkan.

 

Mengapa perlu Detoksifikasi ?

Pada fisiologi, detoksifikasi (bahasa Inggris: detoxification, detox) adalah lintasan metabolisme yang mengurangi kadar racun di dalam tubuh, dengan penyerapan, distribusi, biotransformasi dan ekskresi molekul toksin.

Pengertian Detoksifikasi : Detoksifikasi (detoks) adalah proses pengeluaran racun atau zat-zat yang bersifat racun dari dalam tubuh.

Puasa merupakan salah satu metode efektif detoksifikasi. Pembersihan dan detoks meningkatkan proses alamiah pengeluaran toksin dari dalam tubuh kita.

Organ vital yang menjadi target dalam program pembersihan racun yang efektif adalah usus besar (pengeluaran) dan liver (detoksifikasi).

Detoksifikasi terbagi menjadi 3 klasifikasi menurut golongan substratnya yaitu alkohol, obat-obatan dan zat metabolik.

Salah satu penyebab terbesar terjadinya toxemia pada usus adalah kebiasaan mengkonsumsi makanan yang dimasak secara berlebihan atau diproses, yaitu makanan-makanan yang tidak memiliki enzim lagi.

Juga kebiasaan lebih banyak makan makanan pembentuk asam, yaitu protein (hewani), pati, lemak.

Terlalu banyak menyantap makanan sumber protein (hewani), pati, dan lemak mengakibatkan tubuh mengalami asidosis, yakni kondisi keasaman darah dan jaringan tubuh berlebihan.

Asidosis dapat menimbulkan peradangan pada berbagai jaringan dalam tubuh, menyebabkan butir-butir darah melekat satu sama lain, atau terbentuknya jejaring serabut-serabut halus (fibrin) dalam darah.

Jejaring serabut-serabut ini yang memberi kesan seolah-olah darah menjadi pekat. Serabut-serabut ini mengakibatkan peredaran sel-sel darah terganggu, sehingga pasokan zat makan dan oksigen ke sel-sel jaringan tubuh lainnya terhambat.

Hampir semua penyakit degeneratif dapat dihubungkan dengan kondisi keracunan dalam saluran usus (intestinal toxemia).

Mengapa? Karena setiap jaringan dalam tubuh mendapatkan makanan dari darah, dan darah mendapatkannya dari usus.

Setiap zat yang masuk ke dalam tubuh kita akan terserap ke dalam darah melalui dinding-dinding usus. Artinya, toksin yang berada usus juga akan ikut beredar bersama aliran darah sampai ke sel-sel di seluruh penjuru tubuh kita.

Toksin-toksin inilah yang menyumbangkan terjadinya berbagai kondisi penyakit kronis, akut, dan degeneratif.

Begitu juga menurunnya tingkat energi dan penuaan dini.

Dua system Detoksifikasi Utama pada Tubuh Seluruh manusia memiliki dua sistem detoksifikasi utama yang berguna untuk menghancurkan bahan-bahan berbahaya dari dalam tubuh, yaitu Detoksifikasi :

- Xenobiotik dan Detoksifikasi Antioksidan.

- Sistem Detoksifikasi Xenobiotik

Sistem Detoksifiksi Xenobiotik : Detoksifikasi Xenobiotik akan menghancurkan zat-zat kimia dan logam berbahaya dari makanan,minuman,dan udara.

Sistem ini juga menetralkan bahan-bahan yang berbahaya yang diproduksi dalam tubuh.

Selama proses detoksifikasi,yang mana terdiri dari tipe reaksi enzimatik yang rumit,tubuh akan melakukan metabolisme atau mengubah bahan-bahan toksid menjadi bentuk yang kurang berbahaya (tahap I) dan bila perlu mengubahnya menjadi zat yang larut dalam air (tahap II).

Bentuk ini merupakan syarat sebelum tubuh dapat mengancurkannya.

Sumber Toksin yang dikendalikan oleh sistem Detoksifikasi Xenobiotik yaitu yang berasal dari lingkungan dan dari dalam tubuh.

Toksin dari lingkungan meliputi : kebiasaan merokok,produk tembakau, obat-obatan tertentu,efek samping pembakaran daging yang di bakar/panggang,pestisida,pewarna makanan.

Sumber Toksin dari dalam tubuh : androgen,estrogen,steroid,asam empedu,dan bahan selular lainnya. D-glukarat adalah agen detoksifikasi Xenobiotik yang potensial.

Kadar yang menguntungkan dari D-glutarat dapat kita temukan pada keluarga kubis, seperti : kol, brokoli, seledri, alfalfa,dan kecambah. Buah apel, ceri, alpukat.

Dalam perannya sebagai penghambat,D-glukarat terbukti memiliki efek perlindungan terhadap kanker payudara,prostat,paru-paru,usus besar,kandung kemih,dan kanker kulit.

Kadar D-glukarat yang tinggi dalam darah sering dihubungkan dengan penurunan resiko kanker dan sebaliknya bila kadar D-glukarat rendah dalam darah sering dihubungkan dengan pengingkatan resiko kanker.

D-glukarat juga terbukti menurunkan kadar trigliserida,dan LDL.

Sistem Detoksifikasi Antioksidan Detoksifikasi Antioksidan adalah proses penghentian atau penghancuran spesies yang re-aktif terhadap oksigen, yang merupakan kategori terpenting dari radikal bebas.

Radikal bebas dapat kita analogikan sebagai perubahan elektrik yang tidak stabil—percikan – yang bila tidak dikendalikan dapat menyebabkan kondisi toksin serius dalam tubuh.

Radikal bebas dapat dihasilkan dari faaktor-faktor lingkungan seperti kebiasaan merokok dan polutan lain atau yang berasal dari efek samping reaksi internal seperti respirasi mitokondria (penggunaan oksigen untuk menghasilkan enegri),efek samping dari metabolisme kimia,peradangan akibat kerja fisik,olah raga dan konsumsi kalori yang berlebihan.

Radikal bebas yang berlebihan akan mengambil elektron dari jaringan yang normal dan sehat,yang akan menciptakan kerusakan serius pada sel-sel tubuh.

Bahkan yang paling serius, ternyata radikal bebas yang tidak terkontrol dapat mengubah struktur DNA.

Hal ini dapat menyebabkan mutasi dan perubahan program gen. Keadaan ini dapat memicu proses kanker. Penyakit parkinson, katarak,arterosklerosis, abnormalitas sperma,emfisema,anemia, proses penuaan, dan stroke sering dihubungkan dengan jumlah radikal bebas yang berlebihan dalam tubuh.

Made with blood, sweat and tears in the Nusantara ❤ by BOSS

Copyright 2019 Borneo Herbs